Antre hingga 12 Jam demi Salat di Hijr Ismail? Ini Jadwal dan Tips yang Perlu Diketahui Jamaah Umrah
Hijr Ismail menjadi salah satu tempat yang ingin dikunjungi jamaah saat berada di Masjidil Haram. Tak sedikit yang rela menunggu berjam-jam demi mendapat kesempatan salat di area yang memiliki keutamaan dalam sejarah Islam ini.
Namun, sebelum ikut mengantre, ada beberapa hal penting yang perlu diketahui, mulai dari jadwal masuk hingga persiapan agar ibadah tetap nyaman.
1. Catat Jadwal Masuk Hijr Ismail
Otoritas Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi mengumumkan pembagian waktu masuk Hijr Ismail bagi jamaah laki-laki dan perempuan pada Juni 2026. Jadwal yang diumumkan adalah sebagai berikut.
Jadwal jamaah perempuan
-
Setiap hari, pukul 06.00–09.00 pagi.
Jadwal jamaah laki-laki
-
Setiap hari, pukul 22.00–01.00 dini hari.
Seluruh jadwal menggunakan waktu Arab Saudi atau waktu Makkah. Pelaksanaan di lapangan dapat menyesuaikan kebijakan petugas, sehingga jamaah sebaiknya tetap mengikuti arahan terbaru di Masjidil Haram.
2. Mengapa Banyak Jamaah Ingin Salat di Hijr Ismail?
Hijr Ismail merupakan area berbentuk setengah lingkaran di sisi Ka'bah. Area ini memiliki kaitan erat dengan sejarah pembangunan Baitullah dan dikenal sebagai salah satu tempat yang ingin dimanfaatkan jamaah untuk berdoa dan melaksanakan salat.
Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan At-Tirmidzi, Nabi Muhammad ﷺ memberikan petunjuk kepada Aisyah agar salat di Hijr Ismail jika ingin salat di dalam Baitullah.
Keutamaan inilah yang membuat banyak jamaah ingin mendapatkan kesempatan beribadah di sana. Meski demikian, jamaah tidak perlu memaksakan diri atau mengorbankan keselamatan demi bisa masuk. Ibadah tetap dapat dijalankan dengan baik meskipun kesempatan tersebut belum diperoleh.
3. Antre Semalaman? Siapkan Ini Sebelum Berangkat
Waktu tunggu dapat berbeda-beda tergantung kepadatan jamaah dan pengaturan petugas. Karena itu, persiapan menjadi penting, terutama jika harus menunggu dalam waktu lama.
Beberapa hal yang sebaiknya disiapkan:
-
Makanan dan air minum untuk menjaga energi selama menunggu.
-
Jaket atau kain tambahan karena area masjid dapat terasa dingin.
-
Tisu basah untuk kebutuhan pribadi.
-
Catatan doa agar waktu menunggu bisa dimanfaatkan untuk beribadah.
-
Informasi kelompok dan barang bawaan agar mudah mengenali rombongan setelah berpindah posisi.
Pastikan juga kondisi fisik cukup baik. Jamaah lansia, anak-anak, atau orang yang mudah kelelahan sebaiknya berkonsultasi dengan pembimbing rombongan sebelum memutuskan ikut antre panjang.
4. Selama Mengantre, Jangan Lupakan Adab
Antrean yang padat membutuhkan kesabaran dan kepedulian terhadap jamaah lain. Hindari menyerobot barisan, mendorong, atau memaksakan diri ketika petugas mengatur pergerakan.
Jika perlu ke toilet atau meninggalkan antrean, perhatikan aturan petugas dan koordinasikan dengan rombongan. Jangan menganggap posisi antrean pasti dapat dipertahankan setelah ditinggalkan.
Waktu menunggu juga bisa dimanfaatkan untuk berzikir, membaca Al-Qur'an, dan berdoa. Dengan begitu, waktu tersebut tidak berlalu sia-sia meskipun belum tiba giliran masuk.
5. Perhatikan Batas Hijr Ismail Saat Tawaf
Ada satu hal penting yang juga perlu diketahui jamaah: Hijr Ismail bukan sekadar area di samping Ka'bah. Sebagian area ini termasuk bagian dari Ka'bah.
Karena itu, saat melakukan tawaf, jamaah harus mengambil jalur di luar batas Hijr Ismail. Putaran tawaf yang melewati bagian dalam Hijr Ismail tidak memenuhi ketentuan tawaf tersebut dan perlu diperbaiki sesuai tuntunan fikih.
Jika ragu mengenai jalur tawaf atau kondisi yang terjadi di lapangan, tanyakan kepada pembimbing ibadah agar mendapatkan arahan yang tepat.
Ibadah Nyaman, Tidak Harus Memaksakan Diri
Kesempatan salat di Hijr Ismail tentu menjadi pengalaman yang berharga bagi banyak jamaah. Namun, jangan sampai keinginan tersebut membuat kita mengabaikan kesehatan, keselamatan, atau hak jamaah lain.
Persiapkan diri, ikuti arahan petugas, dan jaga adab selama beribadah di Tanah Suci. Sebab, perjalanan umrah bukan hanya tentang tempat yang berhasil dikunjungi, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga kualitas ibadah dan sikap terhadap sesama.
